Sulselterkini.com, Nasional – ‘Seharusnya bau dupa, bukan bau sampah’ — Krisis pengelolaan sampah mencoreng citra pariwisata Bali

Bali, destinasi pariwisata utama Indonesia, belakangan ini disebut oleh warga dan pendatang menjadi bau sampah.

Padahal, pulau ini awalnya terkenal dengan bau aromatik dupa yang tercium di setiap sudutnya.

Ester Indriani (45), salah satu warga Padang Sambian Kaja, Denpasar Barat, juga mengeluhkan hal tersebut.

Ia mengaku hidungnya ‘gatal’ mencium bau sampah di gang-gang perumahan penduduk hingga ke jalan.

Sebagai pekerja spa, Ester terbiasa mengendus harum aromaterapi.

“Bali itu seharusnya bau dupa, bukan bau busuk sampah. Miris. Benar-benar mencoreng citra Bali di mata wisatawan dunia,” ujarnya kepada wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Selasa (14/04).

Hal senada disampaikan Liza Septina (34), pendatang dari Sumatra Utara yang bermukim di Sesetan, Denpasar Selatan.

Ia mengklaim bisa mencium bau busuk sampah di mana-mana, di kos tempat tinggalnya, di pemukiman penduduk, hingga jalan raya yang belakangan menawarkan pemandangan tumpukan sampah menggunung.

“Bagaimana di mana-mana nggak bau sampah? Di depan kos saja sampah dibiarkan sampai dua minggu baru diambil petugas, sampai bau busuk dan sudah dihinggapi belatung. Baunya benar-benar semerbak,” terang Liza.

Apa faktor-faktor penyebab krisis sampah Bali?

Apa kata ahli soal krisis sampah Bali?

Bagaimana desa adat bisa membantu?

Sumber: BBC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *